Dari 'Polymedia' Hingga 'Etnografi Tagar': Beberapa Pendekatan Antropologi Kontemporer Terkait Teknologi Digital

Oleh: Andi Batara Al Isra (Kandidat Master Antropologi, University of Auckland, New Zealand)

Sumber: id.depositphotos.com

Apakah sesuatu yang bersifat digital, atau segala sesuatu yang berada di dunia maya adalah ‘tidak nyata’? Pertanyaan ini diajukan oleh Boellstorff dengan membawa konsep ‘digital real’ (ihwal digital yang nyata), yakni sebuah upaya penting dalam teori antropologi berkaitan dengan ‘ontological turns’ (perubahan ontologis). Boellstorff menyanggah pernyataan yang kerap membenturkan antara ‘yang digital’ dan ‘yang nyata’. Seolah lawan dari ‘digital’ adalah ‘nyata’. Padahal, oposisi dari nyata (real) adalah ‘tidak nyata’ (unreal), sementara oposisi dari digital adalah fisikal (physical). Lantas berarti, ada hal digital yang real (Boellstorff menyebutnya digital real) dan ada pula digital yang tidak nyata sebagaimana banyak hal fisikal yang nyata juga tidak nyata. Boellstorf mencontohkan bahwa dunia virtual itu adalah sebuah ‘tempat yang nyata’ sebab dia ada dan orang bisa ke sana semaunya.

Bonilla dan Rosa membahas ‘etnografi tagar’ (hashtag ethnography) dengan meneliti bagaimana protes (aktivisme) bisa dilakukan secara digital. Melalui tulisannya, mereka menjelaskan bagaimana dan mengapa platform media sosial (melalui tagar) bisa menjadi sebuah situs luar biasa yang dapat mendokumentasikan beberapa kejadian, misalnya kebrutalan polisi dan kesalahan representasi tubuh yang dianggap rasis melalui media arus utama. Bonilla dan Rosa berargumen bahwa tagar bisa menjadi ‘lokasi penelitian’ untuk melakukan etnografi. Dengan tagar, etnografer bisa melacak teks yang membahas informasi spesifik terkait ihwal yang ingin diteliti. Di sini kita lihat bagaimana tagar menjadi ‘tempat yang nyata’ seperti yang dibahas Boellstorf.

Madinaou dan Miller menyarankan sebuah konsep baru, yakni polymedia untuk menjelaskan fenomena orang-orang yang menggunakan media secara bergantian (email, aplikasi pesan instan, panggilan audio, panggilan video ‘real-time’, media sosial, dll) dalam berbagai situasi untuk mengatur perasaan dan hubungan mereka. Konsep polymedia ini menjadi sangat penting karena kita butuh ‘nama’  untuk menjelaskan situasi ini sebab hampir bisa dipastikan bahwa di masa depan yang tidak terlalu jauh, akan terus bermunculan aplikasi interaksi jarak jauh dan bisa saja, digital real yang dibahas oleh Boellstorff menjadi hampir sulit dibedakan dengan ‘physical real’. Sebagai tambahan, Polymedia punya berbagai dimensi, salah satunya berkaitan dengan tanggung jawab moral, yakni sebuah nilai-nilai normatif mengenai bagaimana orang seharusnya berperilaku secara daring.

Berbicara mengenai tanggung jawab moral melalui media daring, Gershon membahas bagaimana orang-orang memahami media (ideology media) dan bagaimana mereka menggunakan media tersebut (mode praktik). Gershon menganggap bahwa penting untuk tahu ideology media seseorang sebelum memahami bagaimana orang tersebut bertindak melalui teknologi (melalui polymedia, kalau ktai pakai istilah Bonilla dan Rosa). Selain itu, penting juga untuk tahu apa saja ‘struktur’ yang ada dalam sebuah media dan kapan ‘struktur’ tersebut dianggap penting. Misalnya, lebih pantas mana, mengakhiri sebuah hubungan melalui email, aplikasi pesan instan, atau melalui telepon?


Referensi:

 

Boellstorff, Tom. 2016. ‘For Whom the Ontology Turns: Theorizing the Digital Real’. Dalam Current Anthropology, Vol. 57, No. 4, pp. 387-407.

Bonilla, Yarimar dan Jonathan Rosa. 2015. ‘#Ferguson: Digital Protests, Hashtag Ethnography and the Racial Politics of Social Media in the United States’. Dalam American Ethnologist, vol. 42, no. 1, pp. 4-17.

Madianou, Mirca dan Daniel Miller. 2012. “Polymedia: Towards a New Theory of Digital Media in Interpersonal Communication.” Dalam International Journal of Cultural Studies, vol. 16, no. 2, pp. 169-187.

Gershon, Ilana. 2010. The Breakup 2.0: Disconnecting Over New Media. New York: Cornell University Press.


Komentar