Revolution of The Social One Project (Sebuah Memori)

Maaf, resolusi rendah, maklum foto jadul.
Full team Respect kelas XII dengan wali kelasnya (2011). 


Oleh: Andi Batara Al Isra (alumni MAN 2 Makassar, mantan Ketua OSIS dan Ketua Kelas yang baik)

Pernahkah kalian merasakan masa-masa SMA? Ada yang mengatakan bahwa masa SMA adalah masa yang paling indah. Sebenarnya tergantung individu masing-masing. Ada yang memperoleh masa-masa indahnya saat SD, saat SMP, saat SMA, bahkan ada yang memperoleh masa-masa indah saat kuliah. Jika boleh jujur, maka secara pribadi akan saya katakan bahwa masa-masa indah dalam hidup saya dapatkan di setiap jenjang kehidupan. Sebab begitulah kehidupan bekerja.

Saya akan sedikit menggambarkan salah satu bagian dari hidup saya yang tidak akan pernah saya lupa. Yes, masa SMA. Saya sekolah di sebuah madrasah aliyah negeri yakni di MAN 2 Model Makassar yang sekarang MAN 2 Makassar saja, Model-nya hilang, sebagai bentuk pemerataan katanya biar tak ada lagi sekolah unggulan (benarkah?)


Foto sok keren di rumah guru yang juga ibunya teman kelas. Ibu guru tersebut kadang dianggap wali kelas,
padahal wali kelas asli yang pegang gitar (2010)


Saya diterima di kelas X-4 tahun 2008, lalu naik ke kelas XI IPS 1. Benar, saya mengambil jurusan IPS meski sebenarnya nilai IPA saya lebih tinggi dari pada nilai IPS. Tapi hidup itu pilihan, Kawan, jalan hidup telah menuntun saya mengambil jurusan IPS. Saya senang. Terlebih, aku diterima di kelas XI IPS 1 yang merupakan kelas unggulan untuk IPS, aku bangga.

Saat pertama masuk, kelasnya terasa sepi, maklum hanya ada 26 orang yang mengisi kelas tersebut. Hening. Hanya bisik-bisik yang terdengar samar. Entah siapa yang bersuara. Saya tidak bisa seperti ini. Kelas macam apa ini? Diam dan tanpa kehidupan. Saya melangkah ke depan kelas sambil mulai berbicara ke seluruh penghuni baru XI IPS 1.

“Kita ini IPS 1, tunjukkan bahwa kalian pantas berada di sini. Jadi, ayo kita buat keributan! Kelas macam apa yang tidak memiliki suara di dalamnya?” Seisi kelas heran, lalu semua tertawa. Saya senang.

“Mari kita buktikan, bahwa kita ini pantas!” Saya berteriak sembari mengangkat tangan kanan penuh semangat. Saya tidak tahu kenapa di masa itu, saya sangat semangat hahaha.

“Yeay, ayo!” teriak kelas yang kini bersemangat.

Saya lantas berpikir, siswa macam apa yang menyuruh seisi kelas untuk gaduh? Saya memang aneh. 
                                     
Setelah itu hari-hari berjalan indah. Saya ditunjuk sebagai ketua kelas. Ibarat seorang raja, saya harus memikirkan sebuah nama untuk wilayah kerajaan. Nama XI IPS 1 sudah terlalu mainstream, sangat tidak seru. Tiga hari tiga malam saya memikirkan nama yang cocok untuk kelas ini, dan akhirnya setelah berkonsultasi dengan beberapa petinggi kerajaan, maka pada tanggal 16 Juli 2009, saya memutuskan (dan disepakati oleh rakyat kerajaan) bahwa nama resmi kelas XI IPS 1 adalah 'Respect' singkatan dari Revolution of the Social One Project. Respect ini memiliki jargon (tagline), Live for Respect and Respect for Life.

Foto di masjid setelah pembukaan Porseni (2011)


Saya mengambil nama ini karena:

1.  Terdengar keren. Misalnya, seseorang bertanya, “Bata, nama kelasmu apa?” dengan bangga saya menjawab “Respect!”. Keren kan?

2.   Respect merupakan sebuah kata dalam bahasa Inggris yang berarti “saling menghormati” atau “saling menghargai”. Hal itu bermakna, bahwa siswa yang ada di kelas ini merupakan siswa yang humanis. Saling menghormati dan saling menghargai merupakan prinsip dasar dalam kehidupan manusia. Jika kita semua menerapkan prinsip sederhana ini, maka tidak akan ada yang namanya penghinaan, pelecehan serta penindasan. Orang-orang akan saling toleransi satu sama lain, tidak ada bullying, hate speech, dan hal-hal negatif lain yang berkaitan dengan hubungan antarsesama. Bahkan tidak akan ada yang namanya perang. Harus diakui, saat ini dunia kehilangan rasa saling menghargai. We only hurt each other in our life, not respect each other.  So the future will view our history as a crime.

3.    Revolution of the Social One Project yang berarti “Revolusi Proyek IPS 1” merupakan frase yang kurang dimengerti oleh beberapa orang. Saya akan jelaskan makna di balik frase ini. Revolusi Proyek IPS 1 merupakan sebuah gagasan yang menatap jauh ke depan. Gagasan ini terdiri dari dua buah konsep yakni “Revolusi” dan “Proyek IPS 1”. Revolusi merupakan sebuah perubahan yang berlangsung secara cepat, sedangkan Proyek IPS 1 adalah sebuah proyek rahasia yang sebenarnya merupakan ego pribadi saya sendiri . Saat itu, saya membayangkan, bahwa orang-orang di kelas XI IPS 1 merupakan orang-orang dengan banyak sifat, karakter, dan bakat yang berbeda. Namun seperti yang saya katakan sebelumnya, mereka berjiwa humanis yang berarti mereka adalah orang-orang yang baik. Dari asumsi seperti inilah, saya berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang berpotensi. Maka saya yakin, potensi-potensi mereka bisa digunakan untuk membantu orang-orang sekitar. Tidak sampai di situ, visi proyek ini masih jauh ke depan. Mereka semua adalah orang-orang berpotensi yang berarti persentase kesuksesan mereka itu tinggi. Oleh karena itu, jika suatu hari nanti mereka telah menjadi orang yang berhasil, maka bukan tidak mungkin kemampuan mereka digunakan untuk membangun Indonesia bahkan membangun dunia menuju ke tatanan yang lebih baik. Mungkin terdengar idealis dan utopis, tapi begitulah seharusnya kita hidup. 

Setidaknya hal-hal di ataslah yang saya pikirkan dan saya percaya beberapa tahun yang lalu. Sampai hari ketika saya melanjutkan studi pascasarjana jurusan antropologi di University of Auckland, New Zealand, saya masih percaya hal-hal tersebut. Toh di awal dekade kedua milenium kedua, beberapa dari mereka sudah sukses. Ada yang lolos beasiswa ke luar negeri, ada beberapa yang jadi penulis, ada yang masih berjuang selesaikan pendidikan pascasarjana, banyak yang jadi PNS, ada yang jadi pegawai swasta, tidak sedikit yang jadi pengusaha, dan hampir sebagian besar sudah menikah.

Difoto dari jaket persatuan pas Porseni 2011

Kembali ke tahun 2010, kami semua naik ke kelas XII. Kami senang namun kami juga sedih. Senang karena kami naik kelas dan mendapat teman baru yang di-rolling dari kelas lain. Sedih karena banyak kenangan tersimpan di kelas yang lama dan kehilangan beberepa teman yang di-rolling ke kelas sebelah. Pe-rolling-an ini membuat populasi di kerajaan Respect berkurang menjadi 24 orang. Tidak mengapa, karena kami memiliki keluarga baru. Kami semua semangat mengawali hari baru di kelas yang baru.

Oh iya, semenjak menjabat jadi ketua OSIS (Desember 2009 yang berarti memasuki semester dua), saya bukan lagi seorang raja di Respect. Saya menyerahkan tahta kepada Jihan Khadijah sebagai Ratu Respect yang kedua (see? Bagaimana sejak dini kami sadar akan kesetaraan gender). Tidak lama berselang, setelah naik ke kelas XII, berdasarkan hasil pemilihan umum rakyat Respect, maka yang menjadi raja ketiga adalah Ahmad Zaky Malik. Zaky kemudian menjadi Raja Respect yang paling baik dan paling gampang dieksploitasi (maaf). Orangnya yes man, mirip Presiden Jokowi.

Tahun 2011, kami semua lulus dari MAN 2 Model Makassar yang berarti kami harus meninggalkan wilayah kerajaan karena daerah tersebut akan diambil alih oleh generasi selanjutnya. Kami pun meninggalkan beberapa artefak sebagai bukti kejayaan kami di masa lalu. Artefak-artefak itu berupa tempelan lafaz “Allah” dan lafaz “Muhammad” yang mungkin sampai saat ini belum dilepas (karena tempatnya yang sangat tinggi dan mungkin susah diraih) serta meja guru yang telah kami jadikan prasasti berisi tanda tangan seluruh penghuni Respect tertanggal 30 Maret 2011 (sekarang saya sadar, ini adalah sebuah bentuk vandalisme). Sebuah kelas yang penuh dengan kenangan tentang kalian.

Setelah praktik nikah di mata pelajaran Fiqhi.
Saya tidak hadir sedang ikut lomba debat bahasa Inggris Perisai Unhas (2010)


Namun, saya pribadi kecewa (dan mungkin seluruh penghuni Respect juga) wilayah seharusnya menjadi milik generasi penerus IPS 1 kini berubah menjadi wilayah milik jurusan lain. Bukan berarti saya membenci jurusan lain, saya sangat senang dengan anak-anak yang beda jurusan (misalnya IPA). Bahkan, banyak yang bilang bahwa teman saya dahulu kebanyakan anak-anak IPA. Namun yang harus kita ketahui adalah, ada hal yang hanya bisa diwariskan dari seorang ayah kepada anaknya. Kalian mengerti maksudnya? Seperti itulah. IPS 1 adalah sebuah roda yang akan terus berputar. Saling mewarisi dari satu generasi ke generasi lain. Meskipun secara umum kita semua adalah keluarga MAN 2 Makassar, namun secara spesifik, IPS 1 hanya akan mewarisi tanah IPS 1, begitu pun dengan peninggalan-peninggalan di dalamnya. Itu adalah milik 'leluhur' kami, jadi sudah sewajarnya jika itu menjadi milik kami.

Tidak terasa penjelasan ini sudah semakin panjang. Mungkin itu saja perkenalan tentang Respect, sebuah kelas yang memiliki visi jauh ke depan. Ingat teman-teman, the end of class doesn’t mean the end of us. Jadi siapkah kalian mewujudkan apa yang saya percaya selama ini?

Disclaimer: Tulisan ini pernah dimuat di blog lama tapi sudah tidak aktif (akun emailnya tidak bisa diakses, jadi penulis memindahkannya ke web baru). 

Saat perpisahan (2011). We grew up, Friends. We grew up!


Komentar