Lembaran Kisah Rina(i)


 Oleh: Batara Al Isra

Ilustrasi: republika.co.id (foto: EPA/Alaa Badarneh)

Selalu ada kejadian-kejadian yang disembunyikan. Di balik nasib, di balik rinai hujan yang membasahi lembaran-lembaran buku, bahkan di balik tempat makanan kucing yang tiap pagi dan petang kau isi. Pernahkah kau pikirkan hal itu?
Suatu sore, aku berteduh di rumahmu sebab hujan dengan derasnya membasahi bumi yang selama ini kering. Aku menatapmu, kau menatapku. Lalu kau membuka percakapan singkat yang akan membawa kisah kita menuju lembaran-lembaran panjang hidup.
“Mungkin nasib membawamu kemari, memandang air langit bersamaku. Apalagi yang lebih indah dari momen ini?” Kau berkata padaku.
Aku hanya tersipu mendengarmu mengucapkan kalimat itu. Hati perempuan mana yang tak berbunga saat mendengar untaian kalimat indah dari seseorang yang dicintainya?
Sesaat kemudian, kau merapikan buku-bukumu yang basah terkena hujan. Itu salahmu. Kita hanya ke taman untuk sekadar berjalan-jalan, tapi kau selalu merasa tidak nyaman jika tidak membawa buku bacaan. Akibatnya, buku-buku itu basah ketika langit cerah tiba-tiba berganti hujan.
Habis kaugelar buku-buku itu di lantai teras rumah, kau beranjak masuk untuk mengganti pakaian yang kuyup. Dari balik pintu, kulihat kau menuang makanan di sebuah wadah plastik berwarna jingga tua. Aku pikir itu makanan untuk kucing kesayangan yang selalu kau ceritakan padaku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah laku manismu.
            Meski sudah lama bersamamu, ada satu hal yang membuatku heran terhadapmu. Kau tidak pernah mengizinkanku masuk lebih jauh ke rumahmu. Jika hal itu kutanyakan padamu, maka jawabanmu hanya satu, aku belum halal untukmu. Aku sepakat, lagian apa juga kata orang jika melihat seorang wanita berada di dalam rumah seorang pria.
Hujan yang membuatku kedinginan sore itu, memaksa urin menumpuk di kandung kemihku. Aku teriak memanggilmu dari luar pintu, tapi tak ada jawaban darimu. Kakiku gemetar menahan gejolak biologis yang semakin tak terbendung. Aku sudah tak mampu! Tanpa melepas sepatu yang menghiasi kakiku, aku menerobos rumahmu. Kalang kabut mencari toilet yang kadang kita sebut bilik renung.
            Setelah melepas beban itu, aku berniat kembali ke teras rumah. Namun aku tak percaya terhadap apa panca inderaku sore itu.
Hidungku membau aroma khas minuman keras yang tersebar di seantero ruangan yang bercat abu-abu. Botolnya tergeletak bersama alat suntik dan tumpukan kartu. Di dinding, tertempel poster-poster dengan gambar tak senonoh. Ada apa dengan rumahmu? Pikiranku mulai melayang ke sana kemari. Aku mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.
            Hatiku hancur saat kubuka salah satu pintu kamar yang ada di hadapanku. Kusaksikan pemandangan yang tidak akan pernah kulupa seumur hidup.
Kau bercanda mesra dengan perempuan lain!
Oksigen menghilang dari pembuluh darah di otakku. Tubuhku gemetar terpaku. Baru saja aku kau ajak terbang ke langit jauh, kini dari ketinggian, kau menghempasku.
Aku pasti sudah menamparmu kalau saja seekor anak anjing –yang ternyata adalah peliharaanmu- tidak menjilat kakiku. Kau dan kekasih lainmu -yang panik- mencoba menjelaskan semuanya. Tapi aku menolak. Apa lagi yang harus kau jelaskan? Kau tak ubahnya seorang munafik yang berusaha menjerat dan menyesatkan wanita. Tak kusangka aku pernah mencintai orang sepertimu. Topengmu terbongkar sudah. Rumah ini adalah sarang pendosa, dan kau adalah pemimpin mereka. Sejak sore itu, aku bersumpah tak akan ada lagi kisah tentangmu
*
Di lain sore, aku menemukanmu! Kita berteduh di sebuah ruko sebab rinai hujan kembali turun. Dan, bak tak punya rasa malu, kau kembali memulai percakapan denganku.
“Mungkin nasib membawaku ke sini, memandang air langit yang selalu saja menyejukkan hati. Siapa namamu, gadis penunggu hujan?” Kau berkata padaku.
“Bukankah empat tahun lalu kita pernah bertemu di bawah kanopi pohon, lalu kau berkenalan denganku?  Aku dan kau melebur dalam percakapan cair, membuatku terjebak dalam cinta semu yang sebenarnya hanya nafsu. Bukankah kau ingat itu?”
Kau terdiam.
“Kau juga pasti ingat saat lembaran-lembaran bukumu yang basah menipuku seolah kau orang yang cerdas, padahal kau tak lebih seorang munafik nan pandir.”
Kau masih terdiam.
“Kau juga tentu ingat bagaimana kau mengarang cerita tentang tempat makanan kucingmu yang tiap pagi dan petang kau isi, padahal kau hanya pembual belaka.” Aku menatapmu nanar, kau tetap terdiam.
“Maaf, aku tidak mengerti maksudmu nona.” kau seolah tak tahu apa-apa.
“Evan, berhentilah berlaku bodoh!”
PLAK!
Akhirnya aku menamparmu. Tamparan yang tertunda empat tahun lalu kini benar-benar membekas di pipimu. Pun suaranya mengalahkan gemuruh rinai yang menghantam atap ruko tempat kita bertemu.
“Kak Rina! Apa yang kakak lakukan?” Adikku seolah tidak sepakat dengan perlakuanku pada lekaki munafik itu.
“Orang ini yang membuat hati kakak remuk. Dialah alasan mengapa kakak terkena Skizofrenia.” Aku menjelaskan perbuatanku pada Nia yang selama empat tahun ini –saat aku sakit- setia menemani ke mana pun aku pergi.
“Kakak, perhatikan orang itu baik-baik.” Nia memelukku erat. Air matanya mengalir dari pipinya yang tembam. Sontak kuperhatikan baik-baik sosok yang kutampar tadi, lalu kulontarkan sebuah pertanyaan sederhana.
“Maaf, anda siapa?”

*
Cerpen ini pernah dimuat di koran kampus Unhas Identitas pada 2014




Komentar