Jangan Diam Dalam Gelap (Kisah Inspiratif Seorang Akhwat)

Oleh: Ulfiani Rahmi (Guru sejarah dan ibu rumah tangga)

Sumber: kompasiana.com/masimam


Kita tidak pernah tahu kapan, bagaimana, dan kepada siapa hidayah datang menyapa. Banyak orang yang masa lalunya tidak punya harapan, gelap, dan tenggelam dalam air mata. Namun tiba-tiba tanpa dia duga, sesuatu mengetuk hatinya. Cahaya masuk sedikit demi sedikit lewat celah hatinya yang gelap, lalu memecahkan dinding-dinding hitam yang memenjara dan jadilah dia bermandi cahaya terang. Mungkin ilustrasi di atas kurang lebih menggambarkan sisi kehidupan yang saya jalani.
Kita juga tidak pernah tahu dan tidak pernah meminta akan dilahirkan melalui rahim siapa dan dimana kita tinggal, siapa keluarga kita, teman dan tetangga tempat kita tumbuh-berkembang. Hal itu sangat saya rasakan, seandainya mungkin saya bisa memilih untuk dilahirkan di suatu tempat, saya tentu akan memilih untuk dilahirkan di tempat yang nyaman dan di lingkungan yang memang telah tercerahkan. Tapi sayangnya, saya seorang perempuan yang hidup di tengah keluarga yang biasa saja dalam beragama, seperti kebanyakan awam lainnya. Orang tua tidak terlalu menuntut banyak, seperti memakai jilbab apalagi menjadi seorang hafizah.
Saya tinggal di Kelurahan Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, salah satu slum area di Kota Makassar. Rumah saya berada di depan Jl. Tol Reformasi, dan tepat berada di sebelah jembatan layang Jl. Galangan Kapal. Rumah-rumahnya sangat sederhana dan ada beberapa yang hanya terbuat dari setumpuk seng atau tripleks dan kayu bekas. Rata-rata pemilik rumah tersebut bekerja sebagai buruh cuci dan sopir truk. Kemiskinan memang karib dengan kriminalitas, tidak heran, sebagian besar orang-orang dekat rumah saya gemar berjudi –bahkan ibu-ibu sekalipun-, mabuk-mabukan begitu malam menjelang, gemar melakukan kekerasan, gemar berlaku riba –dengan jadi rentenir misalnya-, dan menggunakan bahasa berupa umpatan kasar. Saya terkadang merasa kalut dan kasihan pada mereka, saya hanya bisa berdoa agar mereka bisa memperoleh hidayah.
Begitulah gambaran lingkungan tempat saya hidup selama ini, sejak kecil saya telah di kelilingi ihwal-ihwal negatif. Maka dalam proses perkembangan saya, terkadang ada hal-hal yang tersangkut dan mempengaruhi kehidupan saya. Misalnya saat duduk di bangku SD hingga awal-awal SMP, saya perempuan yang dikenal tomboi; berambut seperti laki-laki, kasar, suka berkelahi, memukul orang, dan sederet kenakalan lain. Namun meski seperti itu, saya tetap ikut mengaji dengan anak-anak lain setiap bakda magrib.
Begitu duduk di bangku SMP, saya mulai sedikit berubah. Meski belum memakai hijab dan masih suka berkelahi, saya mulai rajin membaca buku bertema agama. Buku-buku seperti kisah para nabi dan rasul, tanda-tanda kiamat, dan lain-lain. Kegemaran tersebut datang begitu saja tanpa saya minta. Kelak kemudian hari, saya berpikir, dari sini tanda-tanda hidayah itu muncul. Namun karena tidak ada teman diskusi, saya sibuk belajar sendiri.
Teman-teman SMP saya juga mulai berubah sebab pergaulan saya semakin luas. Namun saya rasa, saya masih terjebak dalam lingkungan gelap. Entah mengapa, saya susah menemukan teman yang mampu membawa saya menuju ihwal kebaikan. Malah, saya pernah menyaksikan langsung bagaimana beberapa teman saya terkena virus ‘merah jambu’ akibat kenakalan remaja dan rela memberikan apa saja yang dia miliki, segalanya. Segalanya yang saya maksud di sini memang segalanya, termasuk hal paling sakral milik seorang perempuan, yakni keperawanan. Suatu kesyukuran karena meski saya menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman saya berlaku sangat tidak pantas -dan secara tidak langsung hati saya menangis-, alhamdulillah saya tidak pernah ‘tenggelam’ dalam perbuatan seperti itu. Mungkin di sinilah kuasa Allah yang masih menjaga kehidupan saya.
Saat menginjak SMA, saya semakin rajin mengkaji Islam dan semakin sering membaca buku-buku Islami yang lumayan membangkitkan semangat saya untuk belajar. Saya juga mulai mencari referensi Islami lewat internet, dan aktif diskusi tentang Islam di Facebook. Meski lagi-lagi, saya masih suka berkelahi dan kehidupan saya masih saja di kelilingi gelap –meski tidak separah waktu SMP. Di jenjang pendidikan ini, saya mulai memiliki sahabat yang sepaham dengan saya, dia juga gemar mengkaji agama. Selain itu, saya berkenalan dengan seorang akhwat yang memakai jilbab besar, dan saya mulai fans dengan orang-orang yang menggenakan hijab (terutama jilbab besar). Akhwat tersebut memberikan info-info ihwal seminar Islam dan daurah.
Menginjak kelas XI, akhirnya saya memutuskan untuk memakai hijab tanpa nasihat atau perintah dari siapa pun, perubahan penampilan saya murni keinginan sendiri. Awalnya, saya hanya memakai hijab saat hendak ke sekolah saja, namun perlahan-lahan, saya mulai istiqomah dengan mengenakan hijab ketika bepergian ke mana saja, meski kadang celana masih menghiasi kaki saya ketimbang rok
Saya lalu melanjutkan studi di salah satu kampus terkenal di Makassar. Saya kuliah di Fakultas Ilmu Sosial. Di sana, pergaulan semakin keras. Bukan hanya maksiat berbalut hal-hal intelektual, solidaritas, dan senioritas, tetapi juga ghawzul fikr yang menggempur dari segala penjuru untuk melemahkan akidah kita, lebih parah dari pelaku dosa besar yang mengelilingi saya sejak kecil. Sebab ini berkaitan dengan akidah dan sesuatu yang dianggap benar oleh segelintir orang yang mengaku cerdik-cendekia.
Agar akidah dan diri ini tetap terjaga saya memutuskan untuk ikut tarbiyah, tahsin, dan lebih aktif lagi diskusi serta mengkaji Islam lebih dalam. Hijab saya pun semakin lebar, dan saya di kelilingi dengan orang-orang baik yang saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Saya pun aktif mengikuti kegiatan-kegiatan Islam dan bergabung menjadi pengurus Lembaga Dakwah Kampus (LDK) hingga akhirnya banyak orang yang bertanya ihwal agama kepada saya.
Salain aktif di LDK, saya juga aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Saya berpikir, jangan sampai hidayah ini hanya untuk saya, sehingga saya bergabung dalam HMJ dengan niat semoga saya mampu memberi kebaikan di sana. Pergaulan di sana memang keras, saya sampai dijuluki ‘Aisyah’ oleh orang-orang karena hanya saya sendiri yang berbeda dengan orang-orang di dalam HMJ itu. Karena mayoritas pengurus HMJ itu laki-laki, setiap rapat, saya selalu duduk menjauh dan terpisah sendiri di belakang forum.
Beberapa bulan setelah sarjana, sepuluh bulan lalu, seseorang melamar saya. Menikah adalah ihwal baik yang harus disegerakan jadi sya tidak menolak. Untungnya, saya akhirnya menemukan ‘teman hidup’ yang pengertian dan paham agama. Meski kami masih tinggal di lingkungan masa kecil saya, kami saling mengingatkan dan menasihati satu sama lain. Termasuk di masa-masa saat saya terkena futur, beliau mengingatkan saya untuk kembali ke jemaah. Saya memang sempat mengalami keadaan tersebut. Insya Allah, saya akan kembali menjadi ‘Aisyah’.




Komentar