Antara Otobiografi Gloria atau Sandiwara Ranu (Catatan Singkat tentang Cerpen AS. Laksana dan S. Gegge Mappangewa)

Oleh: Batara Al Isra (pegiat literasi, pustakawan dan penulis Di Seberang Gelombang)

Sumber: serupa.id


Saya pernah diberi tugas sederhana suatu hari dalam sebuah kelas kepenulisan, yakni menulis hal-hal menarik berupa komentar, kritikan, atau apa saja tentang dua buah cerpen paling istimewa yang saya baca, dengan gaya penceritaan berbeda. Yang terlintas dalam benak saya kala itu adalah cerpenis AS Laksana dan S. Gegge Mappangewa. AS. Laksana memiliki cerpen dengan kualitas narasi yang imajinatif dengan makna kata cenderung berlapis, sementara S. Gegge Mappangewa bergaya deskriptif dengan penggunaan diksi yang sederhana dan mudah dicerna -selain karena beliau salah satu mentor kepenulisan saya.

Cerpen pertama yang ingin saya komentari adalah “Otobiografi Gloria” oleh A. S. Laksana. Seperti kebanyakan cerpennya yang lain, A.S. Laksana membubuhi cerpen tersebut dengan nuansa satir. Dari segi ide cerita, cerpennya memang menarik. Seorang keluarga yang kebahagiaannya tidak pernah sempurna. Keluarga ini terdiri dari ayah-ibu dan tiga orang anak. Anak pertama laki-laki, dulu di madrasah tapi besar jadi pemabuk (belum menikah), yang kedua sudah menikah tapi tidak pernah dikaruniai anak, yang ketiga belum menikah meski umurnya sudah kepala tiga.

Pasangan suami istri ini –sebetulnya- memiliki banyak persoalan. Tokoh Aku yang bercerita ternyata adalah anak dari anak ketiga yang tidak pernah menikah, dalam ihwal ini, penulis berhasil membuat kita salah sangka. Akhir ceritanya pun tragis, Gloria dibunuh oleh kakeknya dengan alasan hanya membuatnya malu sebagai cucu yang –seharusnya- tidak diharapkan (dia ingin sekali cucu, tapi tidak seperti ini caranya).

Tahu apa ending-nya? Tidak seperti cerpen-cerpen lain yang pernah saya baca, cerpen ini membuat saya harus keluar dari kotak, aneh dan tidak pernah saya pikirkan. Mungkin kalau yang tulis adalah orang awam (cerpenis tidak terkenal) akan dianggap hal aneh dan tidak masuk akal. Jadi akhirnya, Gloria menyatakan secara tekstual dalam cerpen bahwa yang menulis cerpen tersebut adalah rohnya yang memasuki tubuh A.S Laksana yang sedang kehabisan ide cerita. Saya yakin cerpen ini bukan jenis cerpen magis-realis –apalagi realis-, surealis mungkin? Saya kurang tahu.

Cerpen kedua yang saya baca dan menurut saya sangat berbeda dari cerpen sebelumnya adalah “Sandiwara Ranu” dari S. Gegge Mappangewa. Cerpen tersebut termuat di majalah Femina dan betul-betul sangat berbeda dari segala sisi dengan cerpen Otobiografi Gloria-nya A.S. Laksana. Cerpen S. Gegge Mappangewa sangat realis, teknik penceritannya mengalir maju, beda dengan OG yang punya banyak flashback. Tokoh utamanya pun lebih sedikit ketimbang OG, lebih setengah isinya membahas Ranu.

Namun dari segi pesan, OG menurut saya mengandung banyak permisalan-permisalan dan pesan-pesan tersembunyi yang harus pembaca gali yang berarti pembacanya harus cerdas- sementara SR memiliki pesan yang sangat gamblang dan jelas seperti tinta tumpah di atas kertas.

Lantas mana yang lebih bagus? Keduanya sama-sama bagus, tergantung penikmatnya. Ada yang menikmati cerpen realis, namun ada yang kurang senang dengan gaya tersebut dan lebih menyukai gaya surealis (itu pun jika kita menganggap OG adalah cerpen surealis). Saya pribadi menikmati keduanya.  

Komentar